Equityworld Futures – BI harus tambah cadangan emas hadapi Brexit dan Amerika Serikat

Equityworld Futures
Equityworld Futures – Ronaldo: Saya Minta Kesempatan Kedua pada Tuhan
11/07/2016
Equityworld Futures
Equityworld Futures – Pengiriman Paket Lebaran Via Pos Indonesia Melonjak 40%
11/07/2016

Equityworld Futures – BI harus tambah cadangan emas hadapi Brexit dan Amerika Serikat

Equity World

Equity World

Equityworld Futures – Ekonom dari Universitas Sam Ratulangi Manado, Agus Tony Poputra menyarankan agar Bank Indonesia menambah cadangan emas negara. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit serta fenomena di Amerika Serikat. Pertengahan 2016 menjadi momen yang kurang menguntungkan bagi dunia.

“Keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE) yang dikenal dengan Brexit telah menekan nilai Pound ke titik terendah selama 31 tahun terakhir. Kondisi ini juga berdampak ke negara lain,” ujarnya seperti ditulis Antara Manado, Minggu (10/7).

Equityworld Futures – Poundsterling merupakan salah satu mata uang kuat (hard currency) di dunia dan menjadi pilihan cadangan devisa pada kebanyakan bank sentral di dunia. Meski demikian, menurut Agus, Pound tetap tidak kebal terhadap perubahan lingkungan. Kondisi yang sama dapat dialami mata uang kuat lainnya.

Rentannya nilai mata uang suatu negara terhadap fluktuasi tajam terjadi karena negara-negara di dunia saat ini telah menggunakan rezim fiat money. Pada rezim ini uang yang beredar di suatu negara tidak dikaitkan lagi dengan emas maupun perak di bank sentral.

Konsekuensinya, nilai mata uang tergantung semata-mata pada kepercayaan pemakainya terhadap mata uang tersebut dan negara pemiliknya. Jika banyak pihak percaya pada suatu negara, nilai mata uang negara tersebut akan kuat. Sebaliknya, orang kurang atau tidak percaya lagi maka nilai mata uangnya akan terdepresiasi tajam dan bisa senilai lembaran kertas biasa.

Kepercayaan terhadap suatu negara umumnya tergantung pada kondisi ekonomi, politik, kebijakan pemerintah, dan keamanan. Jatuhnya nilai Pound lebih disebabkan oleh faktor politik dan kebijakan pemerintah yang dikaitkan dengan masa depan ekonomi Inggris Raya.

Apa yang dialami Pound bisa saja berjangkit pada USD yang menjadi pemimpin mata uang dunia. Sebagai negara adidaya, banyak pihak besar memperkirakan Amerika Serikat tidak mungkin runtuh. Namun, sejarah memperlihatkan banyak negara besar pada masa lalu telah mengalaminya.

Saat ini, AS sedang mendapat tekanan dalam negeri. Isu rasial mengalami eskalasi yang tajam dan bisa berujung pada terganggu keamanan dan ekonomi negara tersebut secara masif.

Oleh karena itu, Bank Indonesia perlu menata kembali portofolio cadangan devisa dengan memperbanyak emas moneter. Memang nilai emas juga mengalami fluktuasi. Namun, tetap memiliki nilai yang memadai. “Peningkatan jumlah emas moneter oleh BI dapat dipakai sebagai pengamanan nilai cadangan devisa Indonesia dari pengaruh eksternal,” katanya.

Data yang dilansir World Gold Council per Juni 2015 menunjukkan cadangan emas dunia mencapai 31.949 ton. Sebanyak 8113,5 ton atau 25,45 persen dari cadangan tersebut dimiliki AS.

Sebaliknya, Indonesia hanya memiliki 78,1 ton atau 0,24 persen dari cadangan emas dunia. Bahkan, di ASEAN, jumlah cadangan emas Indonesia lebih rendah daripada Thailand dan Singapura yang masing-masing berjumlah 152,4 ton dan 127,4 ton.

Mengingat bumi Indonesia memiliki deposit emas yang relatif besar, seharusnya BI tidak menghadapi kesulitan berarti dalam meningkatkan cadangan emas moneternya.

Dengan cadangan emas yang besar, menurut dia, BI bisa menjaga nilai cadangan devisa secara keseluruhan dan kestabilan rupiah dalam menghadapi dampak Brexit dan potensi terganggunya kondisi domestik AS. Equityworld Futures

Comments are closed.